(Rumah Sehat atau Rumah Sakit) ?
Mungkin sudah takdir bahwa kata “rumah” dan “sakit” jika menjelma menjadi sebuah kata “Rumah Sakit” mengandung pengertian tempat untuk orang sakit melakukan pengobatan, perawatan dan penyembuhan. Tetapi kenapa namanya bukan “Rumah Sehat” yang bisa ditafsirkan sebagai tempat dimana bisa membuat orang sehat, orang yang bekerja didalamnya pun orang sehat (lahir & batin), pun mempunyai lingkungan yang “sehat” pula.
Tetapi biarlah, itu hanya sebuah istilah, harapan lebih mengarah pada fungsi dan tujuan rumah sakit itu sendiri diadakan. Masih terkait dengan banjir, beberapa waktu lalu rekan kami sedang jalan-jalan sore dengan keluarga melintasi jalan HM. Arsyad kearah utara menuju Jl. Ahmad Yani, mendekati depan RSUD Dr. Murjani Sampit kendaraan terpaksa melambat karena terjadi antrian kendaraan cukup panjang yang ingin masuk dan keluar dari rumah sakit.
Seluruh halaman rumah sakit terendam air setinggi 10-15 cm, kebanyakan pengendara roda 2 menyingsingkan celana karena takut basah oleh air. Biasanya jika terjadi rendaman air hanya bagian utara (dekat mushola) RSUD saja yang terendam air, sekarang hampir semua halaman rumah sakit terendam air.

Foto diambil 3 hari setelah banjir dihalaman RSUD Dr. Murjani Sampit
Seluruh halaman rumah sakit terendam air setinggi 10-15 cm, kebanyakan pengendara roda 2 menyingsingkan celana karena takut basah oleh air. Biasanya jika terjadi rendaman air hanya bagian utara (dekat mushola) RSUD saja yang terendam air, sekarang hampir semua halaman rumah sakit terendam air.
Dua hari setelah itu pemerintah daerah menghimbau kepada seluruh PNS untuk melakukan kerja bakti dibeberapa lokasi banjir dikota Sampit termasuk di RSUD Dr. Murjani Sampit. Dari pengamatan seorang rekan yang kebetulan berangkat kerja terlihat puluhan PNS dan TNI/Polri. Rekan kami sengaja mampir didekat lokasi untuk mengamati kerja bakti tersebut, dari sekian banyak PNS yang berniat melakukan kerja bakti hanya puluhan saja yang terlihat bekerja membersihkan beberapa saluran air dan selokan, selebihnya hanya berdiri didepan rumah sakit termasuk diseberang lokasi seperti didepan Apotik Sinar dan depan Bengkel resmi Yamaha. Kami sangat menghargai niat baik dan tulus para PNS yang dengan rela untuk melakukan kerja bakti tersebut, pun kita tidak bisa mempersalahkan mereka yang terlihat hanya berdiri saja, karena memang kondisinya seperti itu. Apa yang bisa dikerjakan melihat genangan air setinggi 10-15cm, harus menyusutkan genangan tersebut dalam 1 (satu) hari jelas tidak mungkin, disedot pun mau dibuang kemana jika tata drainase masih amburadul seperti sekarang ini.
Tak berapa lama berdiam diri dan ngobrol ngarul ngidul para PNS pun bergerak sesuai instruksi untuk melakukan kerja bakti dilokasi lain, lamat-lamat seorang rekan mendengar bahwa mereka akan menuju kedaerah selatan (ketapang). Rekan kamipun mengikuti dari kejauhan kemana arah rombongan PNS tersebut. Entah seperti anak ayam terpisah dari induknya, para PNS terpecah dalam beberapa kelompok kecil dan tidak jelas kemana yang akan dituju. Rekan kami mengikuti beberapa PNS sampai kedaerah PT. Sampit (ketapang hilir) tapi tidak menemukan mereka yang bergotong royong. Rekan kamipun berbalik arah ingin kembali ketempat dia bekerja. Dikawasan pemancar TVRI ketapang rekan kami melihat serombongan PNS sedang duduk-duduk diwarung makan sambil ngobrol. Mungkin mereka kecapean mencari rekan lainnya atau mereka lupa sarapan sebelum berangkat karena takut gak absen kerja bakti. Kan sekarang lagi trend absen lebih penting dari kinerja dan hasil karya.
RSUD (Rumah Sakit Sebenarnya)
Kembali kemasalah semula, sudah lama saya mendapat informasi dari berbagai rekan di Kotawaringin Timur tentang keberadaan Rumah Sakit Daerah ini, baik dari segi pelayanan dan kondisi fisik rumah sakit sendiri. Tentu kemajuan tidak terjadi seketika, semua perlu proses dan waktu. Kami menilai banyak kemajuan yang telah dicapai rumah sakit sekarang semenjak dipimpin oleh Saudara Yuendri, M.Kes (sekarang kepala Dinas Kesehatan Kab. Kotim). Berbagai manajemen dibenahi termasuk infrastruktur dan kelengkapan peralatan penunjang keperawatan rumah sakit. Saya sama sekali tidak mengenal beliau, terlebih beliau mungkin sangat tidak ingin kenal dengan kami yang hanya sekelompok komunitas yang (mungkin) hanya bisa mengkritik J
Tapi tidaklah sulit jika hanya untuk mengetahui profile seseorang, terlebih diera komunikasi dan informasi yang sudah sedikit mengurangi jarak dan waktu, walau kami jauh dari Sampit. Seorang rekan yang pernah menjadi “kuli tinta” beberapa kali pernah melakukan wawancara, beliau termasuk “orang yang welcome”, tidak begitu alergi dengan berbagai kritikan dan masukan. Pun beliau termasuk orang yang terus ingin belajar, mungkin termasuk dalam hal teknologi informasi, karena walau masih belajar beliau mempunyai email untuk berkomunikasi.
Bersama ini juga kami mengucapkan salam kenal kepada Bapak Yuendri, pun bersama ini kami ingin mengulas berbagai hal yang masih terkait dengan beliau, karena RSUD sekarang sedikit banyak masih terkait dengan Instansi dimana beliau bekerja. Walau RSUD sekarang sudah dipimpin oleh direktur yang baru, yaitu Ibu Ratna, tetapi setidaknya RSUD sekarang adalah hasil buah kerja pemimpin terdahulu. Seharusnya direktur yang sekarang dapat meneruskan visi dan misi (yang baik tentunya) dari pimpinan terdahulu untuk terus dilaksanakan dan mencapai tujuan akhir secara simultan. Kami tidak ingin membicarakan hal-hal muluk dan jauh diluar angan, jangkauan, harapan serta asa masyarakat awam, kita refresh sambil membicarakan hal-hal kecil yang masih dalam koridor kepatutan saja.
Hal paling kecil dan sangat dekat dengan rumah sakit tentunya adalah lingkungan di rumah sakit itu sendiri. Tampak depan RSUD Dr. Murjani Sampit cukup bersahaja dan rapi, garasi khusus karyawan, kantin, mushola tentu sangat melegakan hati. Cuma sebagai masukan parkir khusus pengunjung, kedepannya bisa dibuat permanen, tidak seperti sekarang ini parkiran pengujung RSUD seperti parkiran penonton sepak bola antar kampung. Motor pengunjung diparkir dibagian depan sisi utara RSUD tanpa pelindung sama sekali. Kalo panas ya sepanasnya dan kalo hujan ya basah. Terlebih sekarang bagi pengunjung pasien yang dirawat dibagian belakang (barat RSUD) tidak diperkenankan lagi untuk parkir disana, jadi kendaraan pengujung ya tumplek plek didepan RSUD. Jika pengujung agak banyak, area parkir sampai memenuhi depan apotik dan ruang askes, tentu dirasa menggangu bagi mereka yang mempunyai kepentingan keruang tersebut.
Mengarah kebagian dalam RSUD suasana dirasa cukup asri, koridor terlihat bersih, taman yang dihiasi berbagai bunga serta kolam kecil berisi ikan yang berenang kian kemari menambah asri suasana.
.jpg)
Kamipun beranjak menuju ruang VIP disebelah barat, ruangan tertata rapi dan ada 1 set kursi dan meja didepan setiap ruangan VIP. Dari deretan nama pasien kami mengenal seorang nama, yah seorang teman lama. Kami pun berjalan menuju ruang rekan lama yang sedang dirawat tersebut. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, kamipun berbincang seputar kisah lama pertemanan kami.
Suasana diruang VIP terasa cukup nyaman, ruangan dilengkapi dengan 2 bed, televisi, pendingin ruangan dan kulkas serta 1 kamar mandi.Puas bersua dengan rekan lama kamipun pamit untuk melihat bagian lain dari rumah sakit. Tujuan kami berikutnya adalah ruangan pasien kelas I. Terlihat jelas perbedaan dengan keadaan sebelumnya, ruangan terlihat kumuh, sementara tempat tidur pasien hampir berdempet satu dengan lainnya. Tidak ada ruang tunggu untuk keluarga pasien. Mereka hanya bisa menunggui keluarganya yang sakit sambil berdiri atau duduk dikursi disebelah tempat tidur pasien (pun jika kursinya masih ada) karena kami melihat ada beberapa keluarga pasien yang duduk dilantai beralaskan koran bekas.
Kami melihat diluar ruangan tersebut ada beberapa kasur yang dilipat lengkap dengan bantal, tentu hal ini membuat kami penasaran, yang jelas ini bukan tempat tidur pasien. Kamipun mendekat dan berbincang dengan beberapa orang yang duduk disana, mereka mengatakan bahwa kasur dan perlengkapan tidur tersebut adalah milik mereka, keluarga pasien. Jadi para keluarga pasien tersebut tidur dibagian luar ruangan dengan membawa peralatan tidur dari rumah, jelasnya tidak tersedia ruang inap untuk keluarga pasien, mengenaskan. Sebuah catatan baru bagi kami tentang keadaan sebenarnya dari RSUD. Seorang rekan iseng mengajak untuk melihat-lihat bagian belakang ruangan pasien kelas bawah ini, kamipun beranjak menuju kesana, dan WOW…., Gotcha ini lah pemandangan lain yang sebenarnya dari RSUD Dr. Murjani Sampit. Suasana kesemrawutan semakin kental, sampah berserakan diberbagai tempat, banyak jemuran dadakan yang dibuat oleh keluarga pasien yang menunggu keluarganya yang sakit dan menginap dirumah sakit.
.jpg)
.jpg)
Bahkan jemuran dibuat sampai kebibir dinding batas rumah sakit akibat tidak tersedianya sarana tersebut bagi keluarga pasien yang menginap..jpg)
.jpg)
Parahnya lagi pada bagian belakang ini terdapat genangan air yang sudah berlumut dan kotor, diperkirakan genangan ini lebih dari 2 (dua) minggu lamanya karena sudah ditumbuhi oleh berbagai tanaman air dan lumut berwarna hijau ketuaan.
.jpg)
Kami berfikir, bagaimana jika pasien yang dirawat adalah penderita demam berdarah, sementara lingkungan tempatnya dirawatpun jauh lebih buruk dan primadona bagi nyamuk untuk bersarang dan berkembang biak. Tidaklah buruk untuk mempercantik bagian depan dan bagian lain yang berstatus mewah, tapi sangatlah tidak adil jika mengesampingkan kesehatan dan kenyamanan untuk bagian pasien kelas bawah. Memang lokasi kumuh dibagian belakang rumah sakit ini sangat jarang dilirik apalagi diperhatikan, hal umum jika para pejabat atau keluarganya yang sakit tidak akan menemukan pemandangan ini, mereka dirawat diruang VIP dengan kondisi yang jauh lebih baik. Keadaan dan kondisi ini hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh masyarakat kecil karena mereka terlanjur nasib menjadi rakyat pembayar pajak dan tidak terbiasa berpikir kritis walaupun itu menyangkut kesehatannya sendiri.
Tentu merupakan pekerjaan rumah bagi direktur rumah sakit yang baru, anda yang dulunya sebagai orang teknis sekarang berada pada level manejerial sebagai direktur dan pengelola rumah sakit daerah. Pola berpikir, planing visi dan tujuan orientasi pelayanan dituntut untuk terus berbenah. Sebagai puncak decesion making pada rumah sakit ini anda tidak bekerja sendiri, koordinasi, kerjasama, pelimpahan tugas dan wewenang untuk mengarah pada hal yang lebih baik tentu menjadi tugas anda. Ini baru masalah infrastruktur dan lingkungan rumah sakit, masih belum mengarah kearah kinerja dan pelayanan pada para pasien, pada kesempatan lain kami akan lebih dalam mengupas hal ini.
“Selamat bekerja, anda adalah pelayanan bagi masyarakat pembayar pajak bagi negeri ini”
osenk
22/05/2007 at 3:53 am
irigasi di daerah HM arsyad memang parah… sama dengan di jalan sueprapto (dulu jalan pinang) rumah kai ulun banjir tarus amun hujan labat..untung kd masuk rumah banyunya…..
hilman
05/06/2007 at 8:41 am
bagus… dan ternyata masih banyak rumah sakit2 yang tidak sehat dalam arti sebenarnya.
ulun ja
02/10/2007 at 3:51 pm
Pengelola blog ini orang kesehatan ya? (cuma tanya)
Kalo boleh jujur, masyarakat kotim itu terlalu acuh, ga kritis sama pemda.
ini gambaran kasar aja ya, ada ga orang yg tau berapa PAD atau Dana Alokasi Umum Kotim, juga Dana Alokasi Khusus serta Dana-dana perimbangan dari APBN Pemerintah Pusat yang dikucurkan untuk KOTIM??? ga ada yang tahu. jadi ga ada yang tahu juga penggunaannya.
harusnya, setiap bulan atau triwulanan minimal semesteran lah Pertanggungjawaban APBD dipublikasikan di media massa, kita tahu ada beberapa media massa lokal yang bisa dipakai.
Ini cuma saran sih, moga2 Uang Rakyat bisa diamankan dan digunakan untuk rakyat. Kita liat aja banyak protokoler bupati yang saya pikir mubazir dan sia-sia. Perlu diingat juga Kotim ini bukan hanya Sampit dan Samuda (tempat asal bupati kita) saja. jadi pembangunan harus merata dong.
Mari jadi masyarakat yang kritis, seruan untuk kaum terpelajar terutama anak muda Kotim mari awasi.
bugie bustaman
06/05/2008 at 7:47 pm
Ass.Wr.Wb.
maaf, saya mau numpang dikit beri masukan. sekilas saya baca artikel diatas intinya setuju demi perbaikan dan kemajuan RS. saya pernah berobat ke poliklinik gigi juga pernah nengok temen sakit di kelas I,saya punya cerita waktu sakit gigi neeh pas lagi nyut nyutan lihat jalanan masuk RS kerendem air mau balik.. tanggung, ya udah kepaksa dech. pas mau parkir bingung dimana neeh ?? ya udah sembarang aja. memang RSU Dr. Murjani ini kondisi saat ini sangat sangat memprihatinkan tampak pada halaman muka RS tergenang air saat hujan turun,drainase tersumbat ( entah sampah apa emang sistem jaringan drainasenya yang belum tertata rapi) atau kondisi di Sampitkan kebanyakan Pasang surut jadi pada saat air pasang mesti ditutupkali ya…ga tau deeh. Lokasi parkir motor utk keluarga pasien dan pengunjung memang bener hrs dipisah dan di beri peneduh juga seperti parkirnya karyawan dan petugas medis donk. kan kita bayar juga ya..Kalo. ai. Menurut hemat saya dari beberapa kondisi fisik RS Dr.Murjani ini harus segera di tindak lanjuti sebelum permasalahan lain datang yang pada ujung2nya menambah masalah baru. menurut saya baiknya pihak RS terutama team managemennya harus menyelesaikannya secara bertahap dan berkesinambungan. eh ty …RSU Dr. Murjani sudah punya Master Plan RS apa belum ya..? nah kalo udah kayanya itu dokumen MP bisa jadi acuan dech untuk menyelesaikan masalah2 yang ada. kalo belum saya punya referensi lho.. temen ( eh …jadi promo) untuk buat Master plan RS. dijamin dech bisa menjawab segala permasalahan yang ada dari mulai fisik (sistem penzonaan,hubungan fungsi antar bangunan,tampilan bangunan, sistem jaringan mulai dari air bersih/kotor,drainase dll.sirkulasi kendaraan,sirkulasi pejalan kaki di dalam ruang baik pasien,tim medis pengunjung,dll) manajemen juga di kupasnya dari mulai SDM ,tenaga medis dan penunjang lainnya, SIM ( sistem informasi manajemen rs, dll) pokoke lengkap dech.
sebelumnya saya haturkan beribu2 maaf apabila masukan ini tidak berkenan, tiada maksud lain kecuali demi kemajuan dan keindahan serta mengangkat nama baik RSU di sampit ini. amien.
yoppy
15/05/2008 at 2:41 pm
salah satu dampak dari kurang terberdaya sumber daya manusianya SDM……..
Renop
21/07/2008 at 8:23 am
Ironis memang kata rumah sakit identik dengan rumah tempat orang sakit yang membutuhkan pelayanan dan perawatan. Walaupun dengan harus membayar biaya yang mahal tapi pelayanan yg didapat blum maksimal. Tapi RS kita ini skrg bukan hanya Infrastrukturnya aja yang tidak sehat tapi bhkan Jiwa orang2 yang ada sebagai abdi bagi masyrakat di RS itu yang sdah tdk sehat lagi . . Bayang kan aja banyak orng miskin yang tidak bs verobat karena biaya nya mahal. . . Pasien di tlantarkan dan dibiarkan menunggu tanpa kepastian kapan akan di layani terkecuali punya uang. . Negeri ini sudah terbiasa dengan penderitaan . . . Janganlah ditambah lagi penderitaan masyarakat kecil yang hanya dituntut membayar pajak tapi tidak pernah diperhatikan pabila rakyat meminta hak nya. . . COba Kalo pemda setempat mau sedikit berbenah untuk meningkatkan pelayanan dan kinerja pada RSU MURDJANI SAMPIT . . . Mungkin RS kita bisa menjadi RS teladan yg da di KALTENG. . . Jangan hanya ngeploting biaya RS yg mahal tp juga implementasikan dengan peningkatan pelayanan bagi masyarakat. Hidup ini sudah susah jangan tambah disusahkan lagi.. . .SALAM DAMAI BUMI HABARING HURUNG. . . ..
anang kosim
13/11/2008 at 2:15 am
Ada lagi yang lebih mengenaskan di RS Murjani Sampit. Yaitu pelayanan apotik pendukung yang ada di situ.
Kami sebagai karyawan perusahaan perkebunan yang berobat disitu seringkali dijadikan sapi perah. Yang jelas karena tidak ada alternatif lain maka oleh poliklinik perusahaan kami ditujuk ke RS Murjani Sampit.
Selalu terjadi, juga pada pasien lain, obat2an yang diklaim akan dibayar tidak sesuai dengan kenyataan yang diberikan kepada kami. Jumlah dan jenis obat di mark up hingga 5-10 kali. Coba bayangkan, kami yang opname cuma 3 hari, tapi setiap hari diklaim 3 resep (3×3=9 resep harus dibayar), masing2 resep tercantum jumlah obat 5-10 macam, masing2 jumlah 6-12 butir (padahal yang kami terima setiap habis makan hanya 3 butir pil). Belum lagi harganya yang 5 x lipat harga di toko obat di luar RS.Padahal kami melihat bahwa sebagian alat yang digunakan untuk transfusi/infus adalah barang bekas, tapi diklaim tiap hari 3 x penggantian baru.
Sebagai pengalaman kami, pada waktu itu kami diopname karena sakit typus, dan klaim yang harus perusahaan bayar untuk kami adalah Rp. 17 juta !!!
Apakah memang begitu standar pelayanan kesehatan di negeri ini ???
Betapa korup nya pejabat RS dan apotik di RS Murjani.
Kami sangat mengaharapkan KPK dan pihak berwenang segera bertindak.
ARGA ASMARADHANA
31/12/2008 at 8:51 am
saya rasa rsu murjani ada bentuk upaya peningkatan,memeng untuk pembangunan tidak seperti membalik telapak tangan.hanya saja peningkatan secara signifikan harus digenjot teruama pelayanan terhadap masyarakat.
dr Agus Hadian Rahim SpOTK
11/01/2009 at 3:06 am
Saya adalah mantan dokter umum yang ditugaskan pada tahun 1988-1991, waktu itu Direktur nya dr H. Darmayar. Kami bersama dr Bambang dan dr Wardani yang sudah lebih dahulu bekerja dan menyusul dr Ratna yang sekarang katanya memimpin rumah sakit ini. Saya tergerak membuka halaman ini krn ada yang telpon saudara saya Pa jajang yang merupakan surprise !!
Saya berharap dapat mengunjungi Rs ini kembali dan membantu apa yang ilmu saya punya, salam buat semua tenaga kesehatan semuanya
reza
10/05/2009 at 1:09 am
harap di selesaikan banjir yg ada i rsud murjani
Dr.Yunus
26/02/2010 at 10:54 am
Ass.kum,
Apakah Dr.Gary SpPK, dinas di RS Sampit, kalau ya tolong sampaikan salam saya Dr.Yunus, teman di Puskesmas Pulau sapudi sumenep tahun 92.
Wassalam
muh. jais
24/06/2010 at 4:06 pm
RS Murjani pemeras pasien. Dokter kongkalikong dengan apotik dengan menjual obat berlebihan (satu hari pasien dicekoki obat2an berbagai macam dalam 3 kali resep sehari dan setiap hari ganti resep).
Dokter2 nya sering salah diagnosa, asal-asalan.
Mentang2 tak punya saingan, membuat tarif, jumlah obat lama rawat inap sesuka hatinya.
Sudah saatnya pemerintah memberi kesempatan swasta mendirikan RS berkualitas agar RS Murjani tidak menjadi RS monopoli dan sewenang2.
Osong bin Pantap
24/06/2010 at 4:13 pm
Saya karyawan perusahaan perkebunan, apabila dirujuk berobat ke RS terasa sekali dipermainkan oleh pihak RS. Kualitas dokter jelek, diagnosa tidak tepat, yang penting rawat inap selama mungkin. Obat2an diresepkan luarbiasa banyaknya, bayangkan sehari saya harus membeli obat seharga Rp. 300.000.- rata2 sekali beli, padahal belum semua obat habis, sudah datang resep baru yang harganya audzubilah.
Perusahaan tempat saya kerja memberi batas plafon untuk pengobatan, sisanya saya harus tanggung sendiri.
Pasien bukannya makin cepat sembuh, malah makin sakit.
Pak Bupati baru, Pak Gubernur, sekali2 menyamarlah jadi rakyat biasa dan rasakan bobroknya kualitas RS Murjani, sangat tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan pasien.
Risky Askes Centre
12/01/2011 at 3:25 am
Ruangan askes centre rusak….kalau hujan pasti air nya merembes….banjir dech kamiiii….kasiaaaannn buhan orang gakin ni….heheheee ^_^
—————————-Bagi yang berkepentingan tolong ditanggapi
Rachmad Noor
11/02/2011 at 1:47 pm
Menurut saya tidak semua komentar diatas benar…karena kami dari pihak rumah sakit murjani sudah berusaha memberikan yang terbaik bagi pasien, cuma kadang-kadang tujuan baik belum tentu ditanggapi baik…masalah harga obat yang diresepkan mahal itu tergantung penyakit dan permintaan pasien juga, diresepkan obat generik tapi malah minta yang paten…tapi tidak tau harga obat paten itu memang mahal, jika memang mau berobat murah silahkan aja cari rumah sakit lain yang memberikan resep murah, kan ada poliklinik swasta lain di sampit….
Rachmad Noor
11/02/2011 at 1:50 pm
apa boleh kami protes jika ada pasien yang juga sering membentak bahkan memukul perawat kami seperti binatang…karena selama ini yang ada kabarnya cuma perawat atau pelayanan kurang dari rumah sakit…padahal masalah etika berbicara kami sudah berusaha selembut mungkin..bhakan kami sering diumpat dengan kata-kata yang tidak berkenan bahkan memanaskan telinga…
kotimwatch
06/03/2011 at 11:30 am
bahkan memukul perawat kami seperti binatang <— ini termasuk penganian berat, laporkan kepada pihak berwajib saja Pak. BTW…….., kapan ya kejadiannya?, gak pernah denger tuh……..
Rachmad Noor
25/07/2011 at 5:26 am
saya lupa kejadian itu kapan…karena udah lumayan lama kejadianya, kami disuruh menunggu standby disamping pasien di salah satu ruangan, kami menolak dan memberi penjelasan bahwa yg dirawat bukan hanya pasien di ruangan yg diminta, tapi juga banyak pasien ruangan lain di instalasi yg sama yg perlu di rawat, karena merasa permintaannya tidak diiyakan, kluarga pasien tersebut langsung memukul teman perawat kami yg sedang tugas di ruangan itu…kalau pasien punya hak bearti hargai juga hak kami yang merawat..jangan kami dianggap sebagai babu..kami bukan robot..kami manusia yg sama punya perasaan juga
arset sanchez 90
27/12/2011 at 2:01 am
masya allah…