Kotawaringin Timur, sebuah kabupaten dengan masyarakat yang hiterogen, sosial kemasyarakatan yang beragam dan kekayaan alam yang berlimpah. Sebuah kombinasi yang dianggap cukup untuk menjadi kabupaten ini menjadi lebih maju dalam berbagai sektor. Tetapi faktor terpenting dari itu semua dan memegang peranan penting adalah Sumber Daya Manusia.
Bagaimanakah kondisi SDM di kabupaten ini ?. Terus terang saya kesulitan mencari padanan kata yang dirasa mengena dan mendekati untuk kondisi SDM dikabupaten ini. Tapi baiklah kita tinggalkan berbagai predikat padanan kata, kami pun termasuk putra daerah dengan banyak berbagai kekurangan. Tetapi satu hal, belajar-trial-error-trial-implementasi-belajar…………dan terus membenahi diri, Suatu siklus pembelajaran untuk kearah yang lebih baik. Tidak memandang status sosial, usia dan latar belakang, kata-kata boleh berbeda, pada penerapan dalam kehidupan semuanya sama.
Beberapa kasus :
#1. Disebuah kecamatan di lokasi transmigrasi mendapat bantuan bergulir berupa Sapi, diharapkan setelah menghasilkan beberapa ekor sapi, sapi tersebut bisa dipelihara lagi oleh kelompok tani lainnya. Tidak sampai beberapa bulan sapi tersebut dipotong dan dijual oleh kelompok tani yang mendapat bantuan sapi, tulang belulangnya dikuburkan ditanah sebagai asumsi jika ada peninjauan oleh dinas terkait bahwa sapi tersebut mati terserang penyakit.
#2. Disebuah desa dikecamatan Mentaya Hilir Utara beberapa waktu lalu akan diadakan pemilihan kepala Desa. Ada 2 (dua) calon yang ditetapkan, seorang pensiunan guru dengan program lebih memberdayakan perkebunan dan lahan yang selama ini tidak tergarap karena masyarakat lebih memilih usaha illegal loging, tetapi sekarang sudah dilarang dan mereka seperti mati suri tidak tau ingin berusaha apa. Seorang lagi, tokoh flamboyan dengan program jika dia terpilih maka akan mendatangkan 2 band dangdut kedesa tersebut. Tahu masyarakat didesa tersebut memilih siapa ?, Tokoh kedua dengan program mendatangkan 2 band dangdut !!!.
#3. Hayung Ku (“Punyaku”), kata dalam bahasa dayak yang akhir-akhir ini akrab didengar seiring perebutan tanah/lahan perkebunan. Kejadian ini tidak menimpa orang lain, tetapi ayah saya sendiri. Selama beliau berdomisili disebuah kecamatan, beliau gemar sekali berkebun. Dari gajinya sebagai Pegawai Negeri Kecil beliau kerap membeli tanah dengan harga murah karena masyarakat sekitar yang tidak ingin lagi berkebun, karena saat itu (tahun 1980-an) hasil dari illegal logging jauh lebih menjanjikan. Ayah saya pun selalu mengurus sertifikasi tanahnya setelah dibeli. Sekarang, setelah illegal logging dilarang dan hanya tersisa banjirnya, orang-orang yang tadinya tanahnya dibeli oleh ayah saya, mengaku-ngaku bahwa tanah yang telah dibeli oleh ayah saya adalah masih miliknya. Masyarakat bingung, kalut karena terbiasa berusaha yang gampang, tebang pohon lalu jual dengan harga tinggi pada cukong. Bagi saya tidak begitu sulit untuk memperdebatkan hal tersebut, saya minta yang bersangkutan untuk memperlihatkan bukti-bukti kepemilikan tanahnya serta tanda tangan dia atau ayahnya (sewaktu masih hidup) yang menandatangani surat jual-beli, selesai.
#4. Seorang rekan melakukan service motor pada sebuah bengkel resmi Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM), saat itu dia melihat seorang bapak membawa motor baru dan ingin melakukan service gratis, karena memang motor baru bebas biaya service dan ganti oli (bahkan) sampai 2 kali. Terlihat bapak tersebut berdebat dengan pemilik bengkel yang mengatakan bahwa olie mesin habis dan bapak tersebut harus membeli sendiri olie mesinnya. Bapak tersebut hanya ngedumel dan melangkah pergi.
Pengalaman serupa pernah saya alami sewaktu kuliah di Bandung, saya catat nama bengkel serta registrasi ATPM nya lalu saya komplain via email ke kantor pusatnya di Jakarta. 2 (dua) hari berikutnya saya ditelpon dan pemilik bengkel datang dengan membawa kalender serta berbagai merchaindise serta tambahan kartu service gratis untuk saya, saya pikir ……… (“emang loe sape….”)
Hmmm…., ok masih banyak berbagai kasus dan pengalaman menarik yang saya sendiri alami dan rekan-rekan saya rasakan. Tapi cukup beberapa fakta diatas saja sebagai “sample” untuk melihat dan mempelajari keadaan SDM dan kesadaran akan hak dan kewajiban serta mencoba untuk belajar berpikir kritis pada masyarakat kita. Masyarakat yang heterogen bukan berarti negatif, masyarakat Kotawaringin Timur harus banyak belajar dari para pendatang di Kabupaten ini, tidak sedikit masyarakat transmigrasi yang dulu datang dengan membawa pakaian dibadan sekarang sudah menjadi pemasok sayur dan buahan segar dipasar Sampit dengan mobil sendiri. Kita bisa belajar dan mengambil aspek yang baik dari kultur budaya dari masyakarat pendatang. Etos kerja, disiplin, pantang menyerah dalam berusaha, hal itu yang masih belum terpacu secara penuh pada masyarakat kita di Kabupaten ini. Masyarakat lebih suka kerja instan, pingin cepat kaya dan terlalu tinggi harga diri.
Sekarang, setelah usaha illegal logging sama sekali dilarang. Apa yang bisa kerjakan ?, pingin kerja instan lagi ?, sudah bukan jamannya Bung !!. Anda, saya, dan kita semua dituntut untuk berkerja keras dalam bidang kita masing-masing untuk saling mengisi, saling bahu membahu untuk lebih memajukan kabupaten ini sejajar dengan daerah-daerah lain.
Tidak mudah merubah kultur, tapi juga bukan hal yang mustahil. Hanya perlu kebiasaan dan kerja keras untuk belajar. Kabupaten ini kaya, anda dan kita semua lah yang harus mengolahnya hingga menjadi sesuatu yang berarti nantinya. Kita bisa belajar dari sebuah kabupaten yang luas wilayahnya jauh lebih kecil dibandingkan Kotawaringin Timur, Kebumen. Ya, sebuah kabupaten di Jawa Tengah, dengan sedikit wilayah pertanian dan mengandalkan serta memaksimalkan PAD dari jembatan timbang dari kendaraan yang melewati daerah ini. Anda bisa melihat bagaimana Kebumen bisa menerapkan e-Government pada Pemerintahan di Kabupatennya. Pada Kotawaringin Timur, jangankan menerapkan hal serupa, banyak PNS yang masih belum melek dan belum memanfaatkan secara maksimal sarana informasi dan teknologi. Saudaraku masyarakat Kotawaringin Timur, kita dituntut untuk lebih berpikir kritis dan berwawasan jauh kedepan. Kita sebagai rakyat sudah berkewajiban membayar pajak, berusaha menjadi masyarakat yang baik pada bidang masing-masing, dan kita berhak untuk mendapatkan yang lebih baik dari berbagai sektor kehidupan di Kabupaten ini. Kami sangat senang karena sarana untuk bersuara sekarang sudah tersedia dengan baik, berbagai media lokal sudah menyediakan “space” tersendiri untuk menampung aspirasi masyarakat luas via pesan singat (SMS). Dari informasi yang kami terima beberapa tempat dikota Sampit sudah terdapat warung internet (Warnet) yang bisa digunakan masyarakat luas untuk dapat mengakses berbagai informasi dan berkomunikasi secara luas. Pemerintah Daerah sebagai pengemban amanat masyarakat untuk memajukan kabupaten ini perlu diberikan kebebasan bekerja secara terus termonitor oleh masyarakat luas sebagai obyek penikmat hasil pembangunan. Sebagai masyarakat kita berhak memantau, menganalisa dan menyuarakan sesuatu yang tidak sesuai dengan visi dan misi yang dijanjikan oleh pengemban amanat rakyat. Banyak media yang bisa anda gunakan untuk menyuarakan aspirasi dan keluhan anda sebagai masyarakat, anda bisa mengirimkan berbagai artikel, temuan dan hal-hal yang tidak sesuai dengan asas kepatutan yang berjalan pada kabupaten ini kepada kami melalui email kotim_watch@yahoo.co.uk atau anda ingin langsung kepada yang lebih berhak menindaklanjutinya, akses website KPK dengan alamat :
SUHAIBATUL ASLAMIYAH
31/03/2009 at 2:58 pm
SELAMA INI SAYA MELIHAT KINERJA KPK LUAR BIASA SEKALI, MEREKA TAK GENTAR SEDIKITPUN
SAYA SUPPORT SEKALI.BANGKIT KPK BERANTAS SELALU TIKUS – TIKUS KORUPSI INDONESIA …..
HARAPAN BANGSA, HARAPAN NEGARA
YOUNG GENERATION KEEP YOUR HEART FROM THE BRIBERY AND CORRUPTION
ILHAM
31/03/2009 at 3:06 pm
BERANTAS KORUPSI BERSIHKAN BUMI PERTIWI DARI TILKUS – TIKUS KORUPSI
SUHAIBATUL ASLAMIYAH
31/03/2009 at 3:09 pm
FOR THE YOUNG GENERATION KEEP YOUR HEART FROM THE BRIBERY AND CORRUPTIONS
zzzzzzz
19/01/2010 at 12:41 pm
dvfrte her