Pergeseran musim hujan tahun ini membawa berbagai dampak pada kondisi masyarakat Kotawaringin Timur. Hal yang sangat dirasakan oleh masyarakat adalah banjir. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hampir setiap turun hujan maka dipastikan berbagai tempat dikota Sampit dilanda banjir. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Memang etensitas datangnya hujan cukup tinggi, tetapi debit curah hujan tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Sudah lama hal ini diprediksi oleh berbagai pihak, pengamat lingkungan, kalangan LSM bahkan dari dalam pemerintahan sendiri. Hal ini didasarkan dari fakta pengolahan sumber daya alam yang tidak memikirkan dampak negatif kearah tersebut. Contoh nyata dan sangat gamblang adalah ekploitasi kayu (pembalakan liar) yang sudah sangat lama terjadi di kabupaten ini yang dilakukan secara serampangan dan sama sekali tidak menghiraukan keberadaan alam dan ekosistem. Termasuk penambangan liar atas berbagai bahan galian, dan sekarang lagi hangat diperdebatkan adalah pembukaan lahan perkebunan sawit secara besar-besaran.

Dari sekolah Taman Kanak-kanak sampai menyelesaikan SMU saya berdomisili dikota Sampit, tidak pernah kota kelahiran saya dan rekan-rekan dikomunitas ini mengalami kebanjiran seperti sekarang ini. Penasaran sangat menggelitik hati untuk mengetahui penyebab semua ini. Alhamdulillah berbagai informasi dan jalinan komunikasi dengan berbagai pihak masih bisa dilakukan walau kami berjauhan untuk mengupas akar dari permasalahan semua ini, kami mengucapkan terima kasih kepada berbagai anggota komunitas yang dengan rela dan tanpa pamrih untuk meluangkan waktu dan biaya melakukan penelusuran untuk kebenaran hal ini.
Illegal Logging
Mengenaskan melihat beberapa foto dari media lokal dimana anak-anak usia sekolah dasar menjadikan halaman rumahnya sebagai “kolam renang dadakan”. Keceriaan yang tampak pada raut mukanya saat berenang dihalaman rumah yang kebanjiran tanpa menghiraukan dampak pada kesehatan mereka. Keluguan mereka akan musibah banjir tentu tidak akan mampu membawa nalar berpikir mereka bahwa ini adalah warisan yang dihasilkan dari tetua mereka yang telah membabat hutan demi keuntungan sesaat. Pemerintah Daerah bisa berkata bahwa pembalakan liar telah berakhir sejak gencar-gencarnya dilakukan razia atas operasi illegal logging, betul. Akibatnya?, baru saja dimulai Bung. Kayu hasil hutan Kalimantan adalah primadona sejak tahun 1970-an. Adakah selama itu masyarakat menikmati hasilnya ?, adakah reboisasi dilakukan selama rentang waktu tersebut?. Hanya para cukong dari luar daerah yang menikmati hasilnya sambil menutup mata dan telinga disaat santai melihat berita bahwa kabupaten ini telah merasakan akibatnya.
Sejahterakah masyarakat yang ditinggalkan?. Jauh panggang dari api. Sekarang masyarakat baru sadar akibat yang ditimbulkan dari sekian lamanya hutan dibabat tanpa memperhatikan dampaknya. Selain rumah tinggal, berbagai sarana dan prasana pun juga ikut mengalami banjir. Sekolah, rumah ibadah, tak terkecuali lahan pertanian masyarakatpun ikut terkena banjir.
.jpg)
Sebuah sekolah kejuruan yang tergenang banjir
.jpg)
Badan jalan, halaman & lantai sekolah terendam banjir
.jpg)
Lahan pertanian warga yang terendam banjir
.jpg)
sebuah rumah ibadah terendam banjir
Seharusnya pemerintah daerah cepat tanggap dalam menyikapi masalah ini, tidak saja menyangkut tempat tinggal warga, tetapi kesehatan dan perekonomian warga pun juga terkena imbasnya. Berbagai penyakit pasca banjir bermunculan, warga mengalami kerugian akibat gagal panen hasil pertanian serta meningkatnya harga sayuran karena sulitnya mendapatkan sayuran dengan mutu layak karena sebagian besar tanaman rusak dan dipanen sebelum waktunya.
Pembukaan Lahan Sawit Secara Besar-Besaran
Tidak dapat dipungkiri hilangnya sebagian besar kawasan hutan dikabupaten ini sejak bertandangnya para investor dan membuka lahan untuk perkebunan sawit. Dipungkiri atau tidak pembukaan lahan (Land Clearing) membawa dampat buruk bagi ekosistem kawasan hutan. Kita masih ingat beberapa waktu lalu hama belalang kumbara menyerang berbagai kawasan dikabupaten ini akibat hilangnya habibat tempat mereka berkembang biak yang kini sudah menjadi perkebunan sawit.Mengantongi ijin pembukaan lahan tidak berarti membabat hutan secara serampangan dan tanpa mengindahkan kelestarian lingkungan. Apalah lagi membuka lahan tanpa ijin. Sudah menjadi rahasia umum banyak perusahan sawit yang membuka lahan tanpa ijin, ada beberapa yang membuka lahan terlebih dahulu baru mengurus ijin pembukaan lahan. Anda tidak percaya, berdiskusilah secara terbuka dan dengan hati nurani dengan Bagian Tata Ruang di Kantor Bappeda Kabupaten Kotawaringin Timur, berapa kasus perusahaan sawit yang baru mengurus ijin pembukaan lahan padahal sudah melakukan land clearing, dan kemana kayu tebangan hasil land clearing tersebut ?. Apakah ini juga tidak berbeda dengan pembalakan liar ???!!!. Bicara fakta tentu berbeda dengan keterangan yang didapat dari beberapa petinggi di Kabupaten ini, Pemerintah Daerah terus berorientasi pada PAD (Pendapatan Asli Daerah) atas perkebunan sawit. Pihak perkebunan bicara dengan asumsi penyerapan tenaga kerja dengan dibukanya perkebunan sawit. Sesuaikah ?. beranikah Pemerintah Daerah memaparkan berapa persen dari PAD yang didapat dari perkebunan sawit ?. Kenapa justru membenahi infrastruktur jalan yang rusak akibat dilalui truk-truk pengangkut sawit saja tidak mampu. Berapa puluh peristiwa kecelakaan jalan raya yang diakibatkan dari lalainya para sopir truk pengangkut sawit yang dengan ugal-ugalan membawa kendaraannya.Berapa prosentase penyerapan tenaga kerja diperkebunan sawit dengan jumlah pengangguran dikabupaten ini ?. Pada sektor apa saja tenaga kerja lokal anda posisikan diperusahaan anda ?. Sesuaikah dengan banyaknya penumpang kapal reguler dari Surabaya dan Semarang yang setiap bersandar dipelabuhan sampit dan menurunkan ratusan penumpang calon pekerja diperkebunan sawit ??!!?. Banyak hasil kajian terhadap tanaman sawit yang mengemukakan bahwa pohon sawit bukanlah tanaman yang ramah lingkungan. Tanaman sawit sangat rakus air disaat musim kemarau dan disaat penghujan tanaman ini tidak mampu mengikat air seperti pohon dikawasan hutan lainnya untuk mencegah banjir.
Masihkah berkilah bahwa perkebunan sawit lebih banyak membawa dampak positif ??.
Faktor Pertambangan
Tidak jauh berbeda dengan perkebunan sawit, berbagai perusahaan pertambangan menjamur dikabupaten ini bak jamur dimusim hujan. Satu lagi kekayaan alam bumi Habaring Hurung ini diekploitasi untuk berbagai kepentingan sesaat. Hal yang sangat kami sesalkan bahwa tidak sedikit perusahaan pertambangan yang melakukan ekploitasi dan sudah melakukan shipment (pengapalan) hasil tambangnya, lalu baru mengurus ijin pertambangan. Apakah untuk melakukan penelitian bahan tambang dan menguji kelayakan material tambang perlu mengambil sampai 4 (empat) tongkang sample material tambang ?, yang benar saja Bung !!. Merampok itu baru benar namanya. Pemerintah Daerah seakan menutup mata atas hal ini, tidak ada sanksi apapun yang diberikan terhadap perusahaan pertambangan yang melanggar ijin eksplorasi. Toh perusahaan tambang tersebut masih tetap melakukan kegiatannya.
FAKTA
Beberapa waktu lalu Bupati Kotawaringin Timur mengatakan pada media lokal bahwa banjir kali ini adalah merupakan fenomena alam dan itu sudah biasa terjadi hampir setiap tahun, agak terhenyak juga saya dan rekan-rekan membacanya. Sebegitu dangkalnya kah pernyataan seorang pemimpin sebuah Kabupaten tentang kondisi yang sedang melanda daerahnya. Apakah anda menjadi Bupati Kabupaten ini baru pas kebanjiran ini saja ?. Bukankah anda sudah menjabat kali kedua untuk Kepala Daerah ini ?. Pernahkah tahun-tahun sebelumnya anda melihat anak-anak usia sekolah dasar menjadikan halaman rumahnya sebagai kolam renang ?.Anda sama sekali tidak peka terhadap kondisi yang terjadi sekarang, dan tentu saja melukai perasaan masyarakat.
Pada hari sabtu (12 Mei 2007) lalu harian lokal Radar Sampit beserta DPD KNPI Kotim menggelar diskusi untuk menguak problematika banjir dan penataan kota. Seorang rekan kamipun menyempatkan diri hadir pada acara tersebut. Sangat disayangkan para narasumber yang hadir kali ini berasal dari Instansi dilingkungan Pemda Kotim sehingga terkesan diskusi menjadi basi dan hanya membahas hal-hal yang amat sangat prosedural seperti pelajaran SD layaknya. Seperti diungkapkan oleh Kepala Bappeda Drs. HM. Fahruddin yang mengatakan bahwa banjir kali ini sudah merupakan fenomena alam sebab kota Sampit hanya 3 meter dari permukaan air laut, sehingga jika pasang maka sebagian kota Sampit akan terendam banjir. Senada dengan itu Kepala Bidang Analisa Pencegahan Dampak Lingkungan dari Bapedalda Kab. Kotim, Ir. Rumdan Mahmud juga mengatakan bahwa bajir ini merupakan fenomena alam. Sungguh mengherankan, dari Bupatinya sampai ke 2 panelis dari Instansinya pun mengucapkan hal yang sama atas musibah banjir ini. Mungkin ini adalah kata wajib bak sumpah PNS yang harus dihafalkan jika ada masyarakat yang menanyakan penyebab banjir.
Tetapi yang menarik sewaktu ditanya kepada Ir. Rumdan Mahmud mengapa banjir juga terjadi didaerah hulu yang notabene jauh dari pengaruh pasang air laut, jawabnnya adalah perilaku manusia, ia mengungkapkan bahwa aturannya sudah ada yang mengatur bahwa kawasan hutan yang menjadi buffer zone (100 meter dari pinggiran sungai) tidak boleh dibuka sebagai lahan perkebunan. Namun katanya masih ada yang membuka lahan pada zona tersebut sehingga air hujan tidak terserap lagi. Nah lho, sapa tuh yang buka lahan perkebunan didaerah tersebut ?, Masyarakat lagi yang disalahkan ????.
PENELUSURAN
Rekan kamipun tergerak untuk menelusuri lebih jauh penyebab banjir kali ini, apakah benar karena pengaruh pasang air laut atau tidak. Kami menyusuri bantaran sungai mentaya disaat air sedang pasang tertinggi, diwaktu yang sama 2 (dua) orang rekan kami menyusuri kawasan banjir disekitar jalan Kihajar Dewantara (Kawasan STIE Habaring Hurung – SMK I Sampit).
Rumah penduduk dipinggiran sungai (Jalan Iskandar / Ketapang sampai dengan J. Usman Harun / Baamang) tidak satupun kebanjiran. Air memang meninggi tetapi air sungai tidak sampai menggenangi rumah warga dipinggiran sungai Mentaya. Via ponsel kami menghubungi rekan kami yang lain yang melakukan penelusuran dibagian barat. Rekan kami mengatakan bahwa banyak rumah warga, sekolah dan tempat ibadah yang terendam air, termasuk beberapa ruas jalan seperti Jl. Christopel Mihing, Jl. Padat Karya, Sukabumi terus kearah Barat sampai ke SMK-I Sampit.
Penelusuran terus dilakukan merunut asal air yang mengalir deras untuk mengetahui apakah air berasal dari pasang air laut atau tidak. Ternyata sama sekali tidak, air mengalir deras dari arah lebih tinggi (dari arah barat). Rekan kami terus menuju ke Jl. Cilik Riwut dan terlihat disalah satu drainase debit air sangat tinggi dan deras yang berasal dari arah barat.
.jpg)
Air yang mengalir deras berasal dari daerah barat (jl. Jendral Sudirman / Arah Sampit- Pangkalan Bun)
Ini fakta bahwa air sama sekali tidak berasal dari pasang air laut, aliran air sangat deras justru datang dari daerah barat, kami pun terus melakukan penelusuran melewati Jl. LP (Lembaga Pemasyarakatan) terus kearah barat melewati jalan berpasir yang akhir-akhir ini sering dilalui masyarakat karena jl. Jendral Sudirman KM 3,5 rusak parah.
.jpg)
Terusan jl. LP yg kerap dilalui warga sebagai alternatif jl. Jend. Sudirman yg rusak parah
Dikawasan ini justru debit air bertambah deras dan tinggi yang datang dari arah barat, kamipun terus menelusuri kearah barat sampai ke bundaran di Jl. Jendral Sudirman. Tidak salah dugaan kami, tepat di Kilometer 4,5 kami menemui ruas jalan yang terendam air dan rusak parah yang selama ini dikeluhkan masyarakat yang melewati jalan tersebut.
.jpg)
Genangan air yang merusak jalan di Km 4,5 ruas jalan Jendral Sudirman
Dengan ekstra hati-hati kamipun melewati jalan tersebut dengan menyingsingkan celana, tetapi karena air cukup dalam tentu beberapa lubang besar dan dalam pada jalan tersebut tidak terlihat sama sekali, seorang rekan terjatuh dari motor karena menabrak sebuah lubang besar. Sambil berhenti sejenak kami berpikir, kenapa pemerintah daerah sampai membiarkan jalan tersebut rusak sedemikian parahnya, padahal setiap hari ratusan PNS serta masyarakat melewati jalan tersebut. Kamipun sempat bertanya dengan beberapa orang yang melewati jalan tersebut yang mengatakan bahwa sering terjadi kecelakaan diruas jalan yang banjir tersebut karena air cukup dalam dan sama sekali tidak bisa melihat beberapa lubang besar.
Kamipun meneruskan perjalanan kearah barat untuk melihat debit air, sepanjang jalan kami melihat parit disebalah kiri dan kanan jalan yang dipenuhi air deras yang berasal dari arah barat dan mengalir kearah bawah (timur) menuju kota Sampit. Sampai kilometer 26 kami berhenti dan tidak berniat meneruskan perjalanan lagi karena sudah jelas sumber air yang membuat beberapa wilayah dikota Sampit banjir adalah berasal dari daerah atas DAN BUKAN DARI LUAPAN PASANG AIR LAUT !!. DAN KITA SEMUA MENGETAHUI BAHWA BANYAK PERKEBUNAN SAWIT DISEPANJANG RUAS JALAN JENDRAL SUDIRMAN TERSEBUT. APAKAH HATI NURANI PEJABAT DIKABUPATEN INI SUDAH TIDAK PEKA LAGI SEHINGGA DENGAN GAMPANGNYA MENGELUARKAN STATEMENT TIDAK BERDASAR TENTANG PENYEBAB BANJIR DIKABUPATEN INI ?????.
BAPAK Ir. HM. FAHRUDDIN, MM Yang Terhormat….
TIDAKKAH SETIAP HARI ANDA BEKERJA MELEWATI JALAN INI, MELIHAT BERBAGAI PEMANDANGAN YANG MENCERMINKAN KESUSAHAN MASYARAKAT, BAHKAN DARI INFORMASI YANG KAMI DAPAT MOBIL ANDAPUN PERNAH TERJEBAK BANJIR DIRUAS JALAN KM 4,5 INI ?. SEWAKTU ANDA MENJABAT SEBAGAI ASISTEN II SETDA KAB. KOTIM, BERAPA IJIN PERUSAHAAN SAWIT YANG ANDA LOLOS KAN, SUDAH KAH HAL TERSEBUT DIKOORDINASIKAN DENGAN BAGIAN TATA RUANG DAN DINAS BAPEDALDA SEBAGAI ANALISIS DAMPAK LINGKUNGANNYA ???.
BAPAK Ir. RUMDAN MAHMUD DAN BAPEDALDA KAB. KOTIM,
KAMI MENGHARGAI KEJUJURAN ANDA PADA FORUM DISKUSI “MENGUAK PROBLEMATIKA BANJIR”, KAMI PERCAYA HATI NURANI ANDA INGIN BERKATA INILAH ULAH MANUSIA SERAKAH YANG MENGERUK KEKAYAAN ALAM TANPA MEMPERTIMBANGKAN DAMPAK BURUKNYA. PUN KAMI TAHU BAGAIMANA POSISI ANDA DAN BAPEDALDA KOTIM DALAM PROSES PEMBUATAN IJIN PERKEBUNAN SAWIT DAN IJIN PERTAMBANGAN. BAGAI SEBUAH SINETRON, BAPEDALDA HANYALAH PEMAIN FIGURAN DAN MASIH BELUM BISA MEMAKSIMALKAN FUNGSINYA SESUAI TUPOKSI. ADAKAH INI DISEBABKAN SEBUAH TEKANAN DARI BEBERAPA PIHAK ???.
WAHYUDI K. ANWAR SELAKU BUPATI KOTAWARINGIN TIMUR,
ANDA SELAKU KEPALA DAERAH DAN SUDAH MENDUDUKI JABATAN YANG SAMA UNTUK KALI KEDUA, ANDAPUN SEORANG PUTRA DAERAH SEPERTI KAMI, TIDAKKAH ANDA MENGENAL LEBIH DALAM DAERAH ANDA SENDIRI ?, TEMPAT DIMANA ANDA HIDUP, ANDA MENGABDI DAN TEMPAT DIMANA ANDA MEMIKUL BEBAN AMANAT RAKYAT BUMI HABARING HURUNG INI.BEBERAPA HARI LALU ANDA MELAKUKAN KUNJUNGAN KEPERKEBUNAN SAWIT DI DAERAH SANDAKAN-MALAYSIA, MESKIPUN MENUAI PRO DAN KONTRA KARENA ANDA MELAKUKAN KUNJUNGAN DISAAT KABUPATEN INI SEDANG MENGHADAPI BERBAGAI MASALAH, KAMI TETAP MENANTI DAN MENGANALISA APA HASIL DARI KUNJUNGAN ANDA. APAKAH ANDA BISA BELAJAR LEBIH BAIK LAGI TENTANG HAL YANG TERKAIT DENGAN PERKEBUNAN SAWIT DAN DAMPAKNYA ATAU MALAH KABUPATEN INI AKAN MENJADI PERKEBUNAN SAWIT SEUTUHNYA ?.
————————————————————-END————————————————————-
.jpg)
“…….HABARING HURUNG, semangat ke-GOTONG ROYONG-an yang menjelma dari akar adat istiadat pada kehidupan nyata. Akankah semangat HABARING HURUNG hanya sekedar slogan bagi petinggi di Kabupaten ini, sehingga tidak lagi peduli pada masyarakat, kekayaan alam dan amanat yang diembannya ?…..”